Cerita dibalik pembuatan DIET BE4 DIE


Membuat Film bagi saya adalah tantangan baru setelah bergelut dengan musik teknologi di studio rekaman. Impian saya adalah memiliki sebuah film dimana saya memiliki kontrol penuh di dalamnya, menentukan alur cerita, membuat musik serta memilih pemain yang bukan datang dari dunia sineas, melainkan teman –teman crew di studio musik kota Solo.
Proyek ini kedua kali saya bekerjasama dengan Sara Neyrhiza, sebelumnya ada proyek video clip yang berjudul Anak Negeri yang dinyanyikan oleh Gilbert Pohan & saya sendiri. Saat ini Gilbert Pohan sedang berjuang di The Voice Indonesia di bawah arahan Gleen Fredly. Sedangkan saya memilih untuk tinggal di Solo dan melanjutkan berkarya membuat Film Diet Be4 Die.

Pemilihan judulnya terbilang unik, yaitu datang dari pengalaman buruk kakek saya dan Sara. Kedua kakek kami meninggal karena proses diet yang dijalaninya. Di masa tua mereka disarankan dokternya untuk berdiet dan mereka kehilangan kontrol atas pola dietnya. Kami terus mengolah tema ini agar bisa dimasukan dalam media pola pikir remaja yang lebih santai.
Akhirnya Saya bertemu Andre, pemain utama film ini. Saya melihat Andre cukup gerah dengan ukuran badannya. Saya berkali – kali berceletuk, “Ndre, sebaiknya kamu diet”. Saya dan Sara mengobrolkan tema ini berkali – kali. Bahkan Sara sendiri menyimpan cerita ini lebih dulu didalam blognya. Kira – kira berbunyi seperti ini :

Saya tidak terlibat banyak di film ini, hanya sedikit sumbangan ide cerita dan mengisi beberapa scene. Proyek “egois” Budi Pasadena ini, awalnya terlahir karena sentimen saya terhadap kamera KODAK Z 5010 yang saya beli.Karena tidak ingin kamera ini menjadi barang tidak berguna, Budi Pasadena mengajak untuk membuat sebuah film. Sebuah film sederhana yang dibuat dengan waktu shooting yang sangat singkat (mendekati waktu pengumpulan karya ke sekretariat FFS), dengan setting sederhana,  hanya terdiri dari 4 pemain, dengan ide cerita yang sempat diganti karena sang tokoh utama putus dengan pacarnya (pacar tokoh utama awalnya kita hire sebagai pemain juga).Tapi, Budi Pasadena selaku produser, sutradara, pemain, editor, penata suara dan seksi sibuk lainnya, akhirnya mampu meracik, meramu, mengolah dan akhirnya film Diet Be 4 Die ini siap tayang.


Saya menambahkan bahkan Film ini adalah perpanjangan promo dari lagu saya Anak Negeri tadi. Di akhir film ini muncul potongan video klip tersebut sebagai satu – satunya musik yang utuh dengan format duo.
Saya senang film ini ditayangkan di Festival Film Solo tanggal 2 Mei 2013 di Teater Besar ISI Solo pukul 16.00. Senang karyanya diputar, padahal dalam diri saya tidak ada bakat menjadi sineas. Dari jaman kuliah saya selalu gagal membuat proyek film atau video klip. Justru setelah saya bekerja dan memiliki beberapa asset yang layak untuk dijadikan final produk seperti ini.
Mengenahi cerita, Film ini banyak berkisah tentang aktivitas olahraga sederhana yang mengambil setting Kota Solo. Semua shootingnya dilakukan secara outdoor untuk menyikapi kendala lighting. Tidak ada dialog tokoh utama, hanya sebuah narasi bahasa Jawa campuran (Jawa Timur dan Jawa Tengah) dan dialog Sara Neyrhiza yang dijawab anggukan kepala oleh Andre.
Saya membuat background musiknya dari berbagi alat musik. Kali ini saya menggunakan gabungan Gitar / Bass asli yang dicampur dengan Virtual Instrument dari Pro Tools. Ya Hanya itu. Mungkin beberapa track saja yang terisi. Selebihnya ada track narasi yang saya ambil dari sebuah MIC buatan Cina seharga 150rb. Saya memiliki mic yang lebih bagus (SHURE) namun saat saya take narasi nuansanya terlalu modern, padahal isi narasi saya adalah bahasa Jawa Campuran. Akhirnya saya nekat pake mic Cina tersebut. Ada tiga versi narasi. Sebelumnya ada Narasi yang dibuat oleh Andre & Narasi Bahasa Indonesia oleh Sara. Namun karena saya keras kepala, saya tetap nekad memasukkan narasi dari MIC Cina tadi.
Proses syutingnya sendiri tidak memakai kamera DLSR yang biasa dipakai oleh sineas lainnya. Saya memakai Kodak Z510 milik Sara. Fungsi Zoom saya selalu saya mainkan ¾. Dan banyak menggunakan tripod pada saat syuting. Editing saya sederhana hanya menggunakan Laptop dengan format HD.
Sengaja saya mengedit White Balance-nya menggunakan software. Biar ada nuansa lain. Saya terinsipirasi dari film MAMACAKE, pewarnaannya cukup berani, di Film tersebut rumput bisa bewarna biru.
Selebihnya kita ketemu di Taman Budaya Surakarta aja ya. Cek web www.festivalfilmsolo.com untuk jadwal pemutaran.
MEI KE SOLO
Salam Budi Pasadena

Posting Komentar

0 Komentar